Ucapanmu Doa Bagiku
cerpen Islami
WARNING : typo bertebaran
“assalamu’alaikum bu, Bilal pulang”
“wa’alaikum salam, ibu ada didapur, kemarilah nak” jawab sang ibu yang sedang memasak didapur.
“duduklah dulu nak. Masakannya sebentar lagi akan siap” ujar bu Aminah lagi seakan tahu bahwa sang ana telah berada satu ruangan dengannya. Tanpa banyak bicara, Bilal segera menuruti ucapan sang ibu. Tidak lama kemudian bu Aminah datang dengan membawa semangkuk sup sebagai hasil masakannya.
“makanlah nak” ujar bu Aminah
“iya bu” jawab Bilal
“bagaimana hasilnya?” Tanya bu Aminah seraya menarik kursi lain dan mendudukkan tubuhnya disana. Seakan mengerti ucapan sang iu, Bilal pun mengeluarkan sebuah lembaran yang segera diterima oleh bu Aminah
“Alhamdulillah bu, Bilal lulus” jawab Bilal seraya tersenyum manis pada sang ibu
“Alhamdulillah nak. Setelah ini apa rencanamu nak?” Tanya bu Aminah. Mandengar pertanyaan dar sang ibu, membuat Bilal menundukkan kepalanya dalam. Melihat ekspresi yang ditunjukkan sang anak, membuat perasaan bu Aminah terasa ada yang mengganjal dari ekspresi anaknya tersebut.
“ada apa nak?” Tanya bu Aminah seraya menegakkan kepala sang anak
“maaf bu, Bilal tidak ingin melanjutkan pendidikan ke universitas bu. Bilal ingin bekerja saja” jawaban dari sang anak membuat bu Aminah kaget luar biasa. Bagaimana anaknya bisa sampai berfikir untuk tidak melanjutkan pendidikannya lagi? Buaknkah anaknya itu ingin menjadi seorang sarjana? Semua pertanyaan itu berkeliaran di kepala bu Aminah
“apa yang membuatmu memutuskan untuk bekerja? Apa kamu ingin membantu ibu?” Tanya bu Aminah. Pertanyaan itu hanya dijawab anggukan oleh Bilal.
“tidak nak. Ibu tidak setuju. Kamu harus menggapai impianmu. Ibu masih bisa bekerja. Ibu masih sanggup membiayai hidup kita. Jika kamu ingin bekerja, ibu akan setuju dengan keinginanmu itu. Tetapi kamu tidak boleh mengorbankan pendidikan. Kamu harus lulus sarjanah terlebih dahulu. Bekerjalah dengan bakat yang kamu miliki. Kerjakan pekerjaanmu tanpa ada rasa terpaksa karena itu akan membuat apa yang kamu kerjakan lebih baik. Buatlah ibumu ini bangga dengan kerjakerasmu selama ini.” Perkataan dari sang ibu membuatnya terharu. Dia tidak bisa lagi membendung air mata yang sudah siap keluar dari pelupuk matanya dan membentuk aliran sungai kecil yang mengaliri pipinya. Dipeluklah tubuh sang ibu sebagai rasa pelampaiasan cinta untuk ibunya. “terimakasih bu. Terimakasih untuk semuanya. Bilal sayang sama ibu. Insya’Allah Bilal tidak akan mengecewakan ibu. Bilal akan membuat ibu bangga”
“iya nak. Buatlah ibumu ini bangga” ujar sang ibu seraya membalas pelukan dari sang anak. Mengingat hal itu mampu membuat Bilal menyunggingkan senyum manisnya. Bilal sangat bersyukur mengingat itu semua.
Ternyata kata-kata dari sang ibu merupakan motivasi untuknya. Dipeluknya bingkai foto itu seraya berucap “lihatlah bu, anakmu ini sudah berhasil menjadi seorang sarjanah dan mendapat pekerjaan sesuai bidangnya. Apa ibu senang melihatnya? Banggakah ibu pada anakmu ini?” Tanya Bilal pada bingkai foto itu. Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari pintu
“masuk” intrupsi Bilal pada orang yang mengetuk pintu tersebut.
“assalamu’alaikum dokter” sapa orang itu
“wa’alaikum salam” jawab Bilal sambil tersenyum dan berhambur kepelukannya. Orang yang sedang dia pikirkan semenjak tadi.
END
Cast : Bilal
Bu Aminah
Hai readers, aku autor baru disisni. Ini sebenarnya karya lamaku
yang sudah setahun lalu tapi baru kepikiran ngeposting sekarang. Judul aslinya
sih Ucapan Ibu adalah Do’a Bagiku yang merupakan tugas cerpen Bahasa Indonesia
dan setelah diganti judul diedit pula cerpennya tapi gak banyak kok cuman
sedikit aja. Eh kepanjangen ya aku curhatnya udah dulu deh silahkan membaca.
WARNING : typo bertebaran
Happy Reading…..
Diruang
persegi yang didominasi dengan warna putih dan peralatan kesehatan sebagai
pelengkapnya. Terlihat seorang pemuda tampan dengan balutan jas putih dan
stetoskop yang setia menggantung dilehernya sedang duduk dikursi kebesarannya
sambil menatap sebuah bingkai foto yang menampakkan dirinya dengan perempuan
paruh baya yang dipanggilnya ibu. Seketika itu juga ingatannya kembali pada
masa lalu.
Ketika
semua siswa larut dalam kegembiraan akan keluluannya, hal tersebut tidak
berlaku bagi seorang siswa yang sedang duduk termenung di pojok kelas. Bukan
karena dia tidak lulus atau memikirkan universitas mana yamg mau menerimanya.
Hei, universitas mana yang tidak mau menerima siswa dengan predikat salah satu
lulusan terbaik di sekolah tenama Ibukota ini? Lalu, apa yang sedang dia
pikirkan? Bilal adalah nama siswa itu, siswa yang sedang duduk termenung di
pojok kelas. Sebenarnya apa yang sedang dia ikirkan? Yah, dia tidak memikirkan
semua itu. Kini yang sedang memenuhi pikirannya adalah sosok ibunya. Dia
sebenarnya ingin meneruskan pendidikan hingga ke jenjang yang lebih tinggi.
Tetapi ia harus mengubur dalam-dalamkeinginannya itu lantaran sang ibu lebih
membutuhkannya. Dia harus membantu sang ibu yang bekerja untuk menyambung hidup
mereka. Dia tidak mau egois tentang hal ini. Seakan tersadar akan sesuatu,
Bilal pun bergegas pulang ke rumah untuk menemui sang ibu.
“assalamu’alaikum bu, Bilal pulang”
“wa’alaikum salam, ibu ada didapur, kemarilah nak” jawab sang ibu yang sedang memasak didapur.
“duduklah dulu nak. Masakannya sebentar lagi akan siap” ujar bu Aminah lagi seakan tahu bahwa sang ana telah berada satu ruangan dengannya. Tanpa banyak bicara, Bilal segera menuruti ucapan sang ibu. Tidak lama kemudian bu Aminah datang dengan membawa semangkuk sup sebagai hasil masakannya.
“makanlah nak” ujar bu Aminah
“iya bu” jawab Bilal
“bagaimana hasilnya?” Tanya bu Aminah seraya menarik kursi lain dan mendudukkan tubuhnya disana. Seakan mengerti ucapan sang iu, Bilal pun mengeluarkan sebuah lembaran yang segera diterima oleh bu Aminah
“Alhamdulillah bu, Bilal lulus” jawab Bilal seraya tersenyum manis pada sang ibu
“Alhamdulillah nak. Setelah ini apa rencanamu nak?” Tanya bu Aminah. Mandengar pertanyaan dar sang ibu, membuat Bilal menundukkan kepalanya dalam. Melihat ekspresi yang ditunjukkan sang anak, membuat perasaan bu Aminah terasa ada yang mengganjal dari ekspresi anaknya tersebut.
“ada apa nak?” Tanya bu Aminah seraya menegakkan kepala sang anak
“maaf bu, Bilal tidak ingin melanjutkan pendidikan ke universitas bu. Bilal ingin bekerja saja” jawaban dari sang anak membuat bu Aminah kaget luar biasa. Bagaimana anaknya bisa sampai berfikir untuk tidak melanjutkan pendidikannya lagi? Buaknkah anaknya itu ingin menjadi seorang sarjana? Semua pertanyaan itu berkeliaran di kepala bu Aminah
“apa yang membuatmu memutuskan untuk bekerja? Apa kamu ingin membantu ibu?” Tanya bu Aminah. Pertanyaan itu hanya dijawab anggukan oleh Bilal.
“tidak nak. Ibu tidak setuju. Kamu harus menggapai impianmu. Ibu masih bisa bekerja. Ibu masih sanggup membiayai hidup kita. Jika kamu ingin bekerja, ibu akan setuju dengan keinginanmu itu. Tetapi kamu tidak boleh mengorbankan pendidikan. Kamu harus lulus sarjanah terlebih dahulu. Bekerjalah dengan bakat yang kamu miliki. Kerjakan pekerjaanmu tanpa ada rasa terpaksa karena itu akan membuat apa yang kamu kerjakan lebih baik. Buatlah ibumu ini bangga dengan kerjakerasmu selama ini.” Perkataan dari sang ibu membuatnya terharu. Dia tidak bisa lagi membendung air mata yang sudah siap keluar dari pelupuk matanya dan membentuk aliran sungai kecil yang mengaliri pipinya. Dipeluklah tubuh sang ibu sebagai rasa pelampaiasan cinta untuk ibunya. “terimakasih bu. Terimakasih untuk semuanya. Bilal sayang sama ibu. Insya’Allah Bilal tidak akan mengecewakan ibu. Bilal akan membuat ibu bangga”
“iya nak. Buatlah ibumu ini bangga” ujar sang ibu seraya membalas pelukan dari sang anak. Mengingat hal itu mampu membuat Bilal menyunggingkan senyum manisnya. Bilal sangat bersyukur mengingat itu semua.
Ternyata kata-kata dari sang ibu merupakan motivasi untuknya. Dipeluknya bingkai foto itu seraya berucap “lihatlah bu, anakmu ini sudah berhasil menjadi seorang sarjanah dan mendapat pekerjaan sesuai bidangnya. Apa ibu senang melihatnya? Banggakah ibu pada anakmu ini?” Tanya Bilal pada bingkai foto itu. Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari pintu
“masuk” intrupsi Bilal pada orang yang mengetuk pintu tersebut.
“assalamu’alaikum dokter” sapa orang itu
“wa’alaikum salam” jawab Bilal sambil tersenyum dan berhambur kepelukannya. Orang yang sedang dia pikirkan semenjak tadi.
END
Fiuh… (lap keringet) akhirnya
selesai juga. Hehehe panjang ya? Ini 3,5 lembar buku loh sorry ya kalo
bahasanya kurang ok atau sedikit GJ ceritanya *ini gak sedikit GJ lagi tapi
banyak semua malah* yaudahlah maklumin aja namanya juga autor baru. Tinggalkan jejak anda berupa komentar
Komentar
Posting Komentar